Minggu, 08 Mei 2016

Can I trust you?

Seperti yang saya bilang, perubahan bukanlah suatu hal yang mustahil. Hanya dengan satu kejadian yang tidak terduga, kita dapat berubah menjadi lebih baik atau menjadi lebih buruk. Akhir - akhir ini saya merindukan masa ketika saya terlihat lebih hidup. Semangat untuk bangkit sangat cepat datangnya, namun secepat itu pula surutnya. Saat ini semangat hidup saya benar - benar berada di titik terendah. 

Ketika saya ingin kembali percaya pada lingkungan dan orang - orang di sekitar, selalu ada suatu ketakutan yang muncul, dan menbuat saya tidak dapat berpikir apa yang harus saya lakukan. Saya benci terlihat bodoh dan tidak berdaya. Oleh karena itu saya lebih suka menghabiskan waktu dengan diri saya sendiri. 

Saya menjadi terbiasa memikirkan hal - hal buruk yang mungkin akan terjadi setelah saya mengalami sesuatu yang baik. Hal itu terjadi begitu saja, mengalir begitu saja dalam pikiran saya. Saya rasa semua berawal ketika saya berpikir tentang sesuatu, saya selalu memikirkan dampak baik dan buruknya. Saya juga membayangkan hal apa yang akan terjadi jika saya memutuskan sesuatu. Bahkan saya bisa membayangkannya sampai sangat jauh ke depan, mungkin bisa sampai satu atau dua tahun dari saat itu. 

Sampai kemudian saya mengalami masa di mana saya merasa lingkungan tidak dapat menerima dan memahami saya. Saya tidak dapat menerima hal tersebut karena saya merasa telah merubah diri saya agar sesuai dengan lingkungan itu, yang pada akhirnya saya sadari seharusnya saya tidak perlu melakukan itu. 

Setiap hari saya menunggu adanya perubahan dalam diri saya. Walaupun saya tau bahwa perubahan itu harus saya mulai sendiri, tidak akan datang dengan sendirinya. Perubahan yang saya butuhkan bersifat memperbaiki diri saya sendiri. Namun harus darimana saya memulainya? Terlalu banyak yang ingin saya lakukan tapi itu semua juga terasa sangat abstrak bagi saya. Rasanya seperti berada di jalan  yang setiap hari saya lalui tapi saya kehilangan arah. Apa yang harus saya lakukan untuk menolong diri saya yang lain?

Selasa, 03 Mei 2016

miss pesimis

Sering terlintas di benak saya ketika ada seseorang bercerita, atau ketika secara tidak sengaja saya mendengar orang lain berbicara satu sama lain, untuk apa mereka saling berbicara? Mungkin salah satu jawaban yang muncul adalah untuk bersosialisasi. Sejak kecil dalam pikiran kita selalu ditanamkan bahwa kita sebagai manusia tidak dapat hidup sendiri. Saya setuju dengan hal itu. Namun apakah setiap manusia tidak dapat menyadari, bahwa kita terlalu bergantung dengan orang lain?

Sebut saya seorang pesimis, sarkastik, anti sosial, atau apapun yang dapat mendeskripsikan diri saya. Saya pernah hidup seperti orang kebanyakan. Bercanda, membicarakan hal - hal tidak penting mengenai orang lain, hanya untuk menghabiskan waktu dan uang bersama orang - orang yang saya kira merupakan ruang nyaman saya. Saya pernah menjadi seorang ekstrovert. bahkan saya lebih banyak membicarakan kehidupan pribadi saya dengan teman daripada dengan keluarga. Dunia di luar rumah merupakan sebuah arena dimana saya bisa mengeksplor berbagai macam hal yang dapat membahagiakan diri saya sendiri. Namun bukannya saya tidak bahagia dengan keluarga saya. 

Saya adalah seseorang yang tidak mudah dimengerti orang lain. Mungkin mereka memahami saya, tapi tidak dapat menerima saya. Seseorang pernah berkata bahwa saya orang yang keras, tapi hanya orang yang mampu bertahan dengan saya dapat melihat bahwa sifat keras tersebut menutupi sesuatu yang sangat rapuh. Bukannya saya punya rahasia yang membuat saya berusaha terlihat kokoh, saya hanya merasa ada sebuah ketakutan yang semakin hari semakin terasa kuat. 

Saya yang dulu dan saya masa kini mungkin tidak telihat berbeda. Namun saya sendiri merindukan saya yang dulu, walaupun terlihat lebih keras, pembelot, namun saya merasa diri saya yang dulu lebih hidup daripada diri saya saat ini. Jika kembali menjadi seperti dulu merupakan hal yang mudah, sudah sejak lama saya melakukannya. 

Saat ini saya lebih bisa dideskripsikan sebagai seorang pesimis, sarkastik, benci kehidupan sosial, dan introvert. Saya sudah tidak memiliki hasrat untuk membicarakan kehidupan orang lain atau mengetahui bagaimana perkembangan kehidupan seseorang bahkan orang yang saya kenal. Saya merasa hal itu memiliki manfaat bagi saya pribadi. 

Namun saya juga orang yang mudah terbawa suasana. Jika lingkungan membuat saya nyaman, saya akan dengan mudah berubah menjadi orang yang lebih ceria. Mungkin memang saya termasuk orang yang sulit ditangani. Tapi bukankah perubahan bukan suatu hal yang tidak mungkin? Namun apa cukup hanya saya yang berubah?